Senin, 14 Oktober 2013

SENJA DI BERANDA DADA BUNDA BERGAUN MUDA MERENDA CINTA SAAT RABUN SENJA:Dimas Arika Mihardja


SENJA DI BERANDA DADA
BUNDA BERGAUN MUDA
MERENDA CINTA SAAT RABUN SENJA

Tahukah engkau ada apa di beranda?
di beranda duduk seorang bunda bergaun muda
dadanya sedikit terbuka, ada luka bekas gigitan serangga
yang menyerang membabi-buta di malam gulita.

Saat rabun senja, bunda begaun muda itu merenda cinta
segala yang bernama luka dijahitnya saat mata mulai rabun
di ujung senja. Tak bosan-bosannya bunda bergaun muda itu
merenda cinta di beranda dadanya yang luka.
Kenapa? Engkau serupa kura-kura dalam perahu
pura-pura sok tahu : “aku tahu di beranda dada ibu
begaun muda itu bergelantungan buah kehidupan; aku tahu
di belah dadanya ada luka gigitan serangga yang secara gila
membabi buta menyerang dada bunda bergaun muda itu
persis di belahan dadanya!”

Senja benar-benar jatuh cinta di beranda senja
dada bunda bergaun muda itu pun nganga terluka
akibat terkena gigitan serangga yang menyerang membabi buta
maka demam berdarahlah bunda bergaun muda itu
maka mala rindu menjadi candu yang menggelora
menyeru di rongga dadanya. Terus? Engkau tak sabar
menanti kelanjutan ceritanya.
“Saat rabun senja bunda bergaun muda ituselalu saja berusaha keras
Melihat bekas gigitan sersangga yang menyerang membabi buta
dan berusaha merenda luka-lukanya, lalu berkata: “sudah bebas dada bunda
dari serangan hama dan segala senggama serangga
sebab telah kurenda kawat anti nyamuk di dada bunda!”

Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, Jambi 2010

RAHASIA
DI BALIK NAMA
YANG BOLAK-BALIK MENGEJA MAKNA

Tahukah kalian ada doa di balik nama-nama?
Dimas, misalnya, suka gemas mengucap doa-doa:
“ya, Allah telah Kauremas aku usai keramas
saat segala geliat memuncak di ubun
saat menyenggamai malam gelap gulita
saat mata wudun (atawa bisul) hampir meledak dan meledek kecengenganku”
maka jadilah Dimas berkali-kali keramas, mandi jamas
sambil meremas-remas sendiri barang paling berharga miliknya:
bisul yang nyaris meledak itu!

Arika, misalnya, di balik doanya mengucap
“ya, Allah tumbuhkanlah kumis di atas bibirku
seperti kumis kucing yang bisa jadi obat malaria
tumbuhkanlah keberanian mencinta seperti Arjuna
sendiri bertapa di dalam goa ingin mendapatkan wangsit”
maka Allah menjadikan Arika menjadi penjual mie pangsit
sepanjang jalan menjerit-jerit: “Pangsit! Pangsit!”

Mihardja, misalnya, di balik doanya berharap
“ya, Allah telah kueja segala makna cinta
kini jadikanlah Indonesia subur makmur
seperti sumur tanpa dasar mengalirkan jernih airnya bagi sesama”
maka jadilah Mihardja penggali sumur dan penggali kubur sendiri!

Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, Jambi 2010-10-03

lahir di Kulon Progo, Jogjakarta 3 Juli 1959 dengan nama resmi Sudaryono. Saya diangkat menjadi PNS sebagai dosen FKIP Universitas Jambi sejak 1986. Disertasi yang mengantarkannya meraih Program Doktor di Universitas Negeri Malang (2002) berjudul Pasemon dalam Wacana Puisi Indonesia telah dibukukan dengan judul Fenomena Pasemon dalam Teks Puisi (Kelompok Studi Penulisan, 2003). Kini Ia tinggal bersama seorang istri (Rita Indrawati) dan 3 putrinya (Marenda Atika Mh., Riyandari Asrita Mh., dan Dyah Ayu Sukmawati). Sudaryono menghuni rumah di Jln.Pattimura RT 34 No. 42, Kenali Besar, Kotabaru, Kota Jambi. Hand Phone: 08127378325, e-mail: dimasarikmihardja@yahoo.id Karya kreatif yang dihasilkan berupa cerpen, novel, puisi, esai, kritik sastra, dan kajian sastra.

NEGERI SALAH URUS JILID II KARYA DARDO SAYOKO Spb,

Merangkai rutuk lewat kerjap bintang
setiap malam menghujat rembulan
setelah di siang terik meludahi matahari
sebagai pemilik serpihan surga
mengapa hanya menunai harap saat mimpi
jika kian tenggelam di dasar ketidak pastian
pun hari depan tanpa sisa telah tergadai
apa yang kalian lakukan di mercu kemarahan
jika bukan mengepal tinju ke cakrawala

Para serigala lapar ketika berkuasa
tak kenal iba setelah kehilangan urat malu
dengan rakus mereguk darah penyerah upeti
setelah kekenyangan baru tersingkap sebagai penjarah
malah dibiarkan mengukur jalanan dengan mobil mewah
sebelum menjajakan ilusi di pendapa rumah megahnya
seharusnya segera digantung memenuhi igauannya
atau dikutungi tangan panjangnya tanpa remisi

Duhai negeri salah urus
dikelola pemabuk tidak becus
jika rakyatnya menggerutu
malah disuruh minum urus-urus

Kedunggalar, 5 Oktober 2013

Puisi karya penyair Tengger

Sudah terurai didepanku,
dalam sibak-sibak angin tak menentu.
Menjadikan lebih indah bergerak leluasa.

Pergerakan semakin cepat . . .
Lari, selinap lorong-lorong,
jurang berhias liang-liang.

Tanjaki bukit,
puncak gunung ngangakan kawah.
Terbawa asap, terbang jauh . . .
Menukik, renang di laut.
Laut kecil saja, bukan lautan, hehe . .

Perahu-perahu kecil berlayar lincah.
Sekitar kapal besar laju nan tenang.
Menulis puisi, diiringi irama gelombang . . .
Bebas bercanda, hempas menghempas !
Alun kirimkan salam pada tepi pantai.

Puisiku belum selesai, belum kutandai noktah